Trauma Lahir

PENANGANAN TRAUMA LAHIR

Pengertian: Trauma lahir merupakan trauma yang terjadi selama proses persalinan. Insidensnya adalah 2-7 per 1000 kelahiran hidup. Bayi akan mengalami salah satu keadaan berikut :
a. Gerakan abnormal atau posisi asimetris dari lengan atau tungkai
b. Bengkak pada daerah tulang yang terkena
c. Menangis apabila lengan, kaki atau bahu digerakkan
d. Tidak dapat menutup mata, atau mengerutkan dahi pada sisi yang terkena trauma, atau kesulitan menelan.

Tujuan: mengatasi keadaan yang ditimbulkan akibat trauma lahir.

Kebijakan: semua kasus dengan trauma lahir dapat ditangani oleh petugas yang terampil.

Prosedur: Penanganan neonatus dengan trauma lahir berupa :
1. Palsi Lengan :
– Hati-hati waktu memegang bayi, agar tidak terjadi trauma yang lebih parah.
– Dalam waktu minggu pertama, balut lengan dengan posisi seperti pada bayi dengan fraktur humerus untuk mengurangi nyeri.
– Bila ibu dapat merawat bayinya, dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan.
– Minta ibu membawa bayinya pada waktu umur satu minggu untuk : melihat apakah keadaan bayi membaik, minta ibu melakukan latihan pasif bila gerakan lengan belum normal.
– Lakukan tindak lanjut tiap bulan, dan jelaskan pada ibu bahwa sebagian besar palsi lengan dapat sembuh setelah umur 6-9 bulan. Apabila setelah umur satu tahun gerakan lengan masih terbatas, kemungkinan kelainan tersebut akan berlangsung lebih lama.

2. Palsi Wajah :
– Beri salep mata paling tidak 4 kali sehari sampai bayi dapat menutup matanya.
– Bila bayi mengalami kesulitan minum :
a. bantu ibu menemukan cara untuk membantu bayi dapat melekat dengan baik
b. bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan salah satu alternatif cara pemberian minum.
– Bila bayi dapat minum dengan baik dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan.
– Sebagian besar kasus dapat sembuh spontan dalam 2 minggu.

3. Fraktur :
– Tegakkan diagnosis dengan pemeriksaan radiologis.
– Hati-hati pada waktu mengangkat dan mengubah posisi bayi, ajari juga ibu cara melakukan hal itu. Hindari sebanyak mungkin menggerakkan ekstremitas yang mengalami patah tulang.
– Imobilisasi lengan untuk mengurangi sakit.
– Terangkan ibu bahwa fraktur dapat sembuh spontan, biasanya tanpa gejala sisa.
– Bila tidak ada masalah lain, bayi dapat dipulangkan dari rumah sakit.
– Lakukan tindak lanjut pada umur satu bulan untuk melihat penyembuhannnya.

a. Fraktur humerus
– Beri bantalan kapas atau kasa antara lengan yang terkena dan dada dari ketiak sampai siku.
– Balut lengan atas sampai dada dengan kasa pembalut
– Fleksikan siku 90 derajat dan balut dengan kasa pembalut lain, balut lengan atas menyilang dinding perut. Yakinkan bahwa tali pusat tidak tertutup kasa pembalut.

b. Fraktur klavikula
– Lakukan penanganan seperti fraktur humerus
– Bila tidak ada keluhan, meskipun ditemukan fraktur Greenstick, pada neonatus tidak perlu difiksasi.
– Periode penyembuhan berkisar 3 minggu
– Bila terdapat paralisis nervus brakialis, lakukan manajemen palsi.

c. Fraktur femur
– Letakkan bayi terlentang dan letakkan bantalan bidai di bawah pinggang sampai dengan lutut bayi pada tungkai yang terkena.
– Balut bidai ke tubuh bayi dengan pembalut elastis pada pinggangnya dan dari paha sampai di bawah lutut pada kaki yang terkena.
– Tali pusat jangan sampai tertutup pembalut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: